Review “Instant Family” (2019) – Belajar Menjadi Keluarga Cemara

Banyak yang ingin punya anak dan membangun keluarga sakinah, tapi tidak bisa mendapatkannya karena berbagai alasan. Sama seperti pasangan Pete dan Ellie Wagner yang diperankan oleh Mark Wahlberg dan Rose Byrne ini. Keinginan untuk mengisi kekosongan di dalam pernikahan mereka berujung pada sebuah kunjungan ke panti asuhan, di mana mereka akhirnya memutuskan untuk mengadopsi seorang remaja nakal bernama Lizzie beserta dua orang adiknya, Juan dan Lita, untuk membuktikan bahwa mereka mampu menjadi orang tua yang hebat. Semua berjalan baik-baik saja sampai mereka sadar bahwa mengurus anak dengan tabiat kekanak-kanakan mereka bukanlah perkara yang mudah sama sekali. Inilah awal dari “Instant Family”, sebuah film komedi keluarga yang akan memikat hatimu secara instan.

Setelah awal yang terlihat begitu sempurna, segalanya berubah menjadi malapetaka. Lita menolak makan apa pun kecuali keripik kentang, dan Lizzie perlahan menjadi remaja yang sinis dan pemberontak, selalu melawan orang tua asuhnya di setiap kesempatan dengan menentang aturan mereka dan tidak menghargai keinginan Pete dan Ellie untuk menjadi orangtua yang bertanggung jawab. Anak-anak merusak rumah, membakar ruang makan, dan menimbulkan kekacauan bukan hanya pada hidup orang tua asuh mereka, namun juga keluarga dan teman-teman mereka.

Instant Family memiliki premis yang sangat unik dan menarik sebagai sebuah komedi keluarga. Meskipun film yang disutradarai oleh Sean Anders ini tidak menampilkan banyak sisi gelap dari sebuah keputusan untuk mengadopsi “seorang anak dari pengedar narkotika yang masuk penjara”, namun film ini berhasil menyajikan sketsa tawa yang menyentuh soft-spot kita dengan memperlihatkan masalah pelik di dalam sistem adopsi yang terlalu kompleks. Terlebih, film ini banyak menyajikan momen-momen menggemaskan yang bakal bikin suasana menonton bersama jadi semakin manis dan ceria.

Sangat menarik ketika pada akhirnya kita mampu melihat bahwa Instant Family mempunyai subteks yang sama dengan Keluarga Cemara, yaitu sebuah perjalanan untuk menerima kenyataan, untuk berkompromi terhadap kekurangan dan berusaha sebisa mungkin menjadi yang terbaik demi membangun kebahagiaan yang sederhana di dalam keluarga. Berbeda dengan Keluarga Cemara yang dihadapkan oleh kemiskinan dan kebusukan kapitalisme, Instant Family banyak berkutat dengan kepribadian para anak yang telah dilukai oleh kekerasan dari orang tua kandung mereka. Namun di akhir film, semuanya bahagia, semuanya menjadi keluarga yang saling menerima dan saling melengkapi. Indah, bukan?

Untrusted’s Rating: 3/5

Leave a Reply