Hodge Podge Superfest 2019 Menyatukan Beragam Musik Jadi Festival yang Harmonis

Awal September lalu menjadi sebuah momen penting bagi penikmat musik di Indonesia dengan digelarnya Hodge Podge Superfest yang memasuki tahun keduanya. Dipersenjatai dengan line up yang memukau, keempat panggung Hodge Podge Superfest digempur selama 2 hari penuh, yakni 31 Agustus dan 1 September 2019. 

[Foto: Patrick Ovan]

Deretan musisi lokal dan internasional menghiasi panggung-panggung Hodge Podge Superfest di hari pertama. Penampilan hari itu dimulai dari band indie asal Jakarta, Dried Cassava, yang membuka pertunjukan di Wonderful Indonesia Stage. Setelah itu, alunan lagu Fourtwnty diiringi angin pantai khas Ecopark semakin membuat syahdu suasana. Menjelang malam, GAC (Gamaliel Audrey Cantika) menutup karir bermusik bersama mereka di panggung Supermusic sebelum memilih untuk bersolo karir. Menyusul, The Japanese House dan Phony People yang memang sudah ditunggu-tunggu kedatangannya di Indonesia. 

 

[Foto: Patrick Ovan]

 

[Foto: Patrick Ovan]

Ketidakhadiran Snow Patrol bukan penghalang, pengunjung justru dipompa dengan kehadiran The Used di hari pertama. Walaupun bukan kali pertama, kedatangan band emo asal Amerika Serikat ini menjadi sebuah puncak titik nostalgia bagi mereka yang melewati masa-masa remaja dengan alunan musik dari band ini. “Take It Away” dipilih sebagai pembuka dan menjadi lagu awal yang membakar semangat pengunjung menuju lagu-lagu berikutnya. Seketika, tanah pijakan di arena Ecopark Ancol serasa seperti menjadi trampoline dengan loncatan-loncatan tak kenal lelah dari penikmat The Used. Di tengah pertunjukan mereka berkelakar dengan memainkan Wonderwall milik band asal Inggris, Oasis, dan nyeletuk dengan “I hate Oasis’ dan menimpali kemudian, “I’m Joking”.

M.A.T.S dan Barasuara kemudian menjadi aksi pembuka hari kedua Hodge Podge Superfest. Di waktu yang hampir bersamaan, pengunjung dipompa dengan beat dari A. Nayaka di Kapal Api Signature Stage dan juga disodori lagu-lagu baru dari Marcello Tahitoe di BNI Stage. Tanpa jeda, penggemar digempur dengan penampilan Maliq & D’Essentials, dan dilanjutkan dengan Superorganism yang ternyata menjadikan panggung Hodge Podge Superfest menjadi panggung terakhir mereka sebelum vakum dan liburan di remote island

[Foto: Patrick Ovan]

Semakin malam, pemandangan di booth-booth dan arena depan panggung Hodge Podge Superfest mulai diisi dengan pengunjung berbaju hitam. Ini menjadi penanda akan dimulainya penampilan Prophets Of Rage sebagai aksi cadas yang menutup Hodge Podge Superfest. Penampilan perdana mereka sukses mengobati kerinduan fans yang memang menunggu-nunggu aksi band yang digawangi Tom Morello, Tim Commerford, DJ Lord, Brad Wilk,B-Real, dan Chuck-D tersebut. Tidak dapat dipungkiri, semangat “Make Jakarta Rage Again” yang ditampilkan Prophets of Rage membakar semangat penonton hingga membuat moshpit yang besar di depan panggung. 

Hodge Podge Superfest pun ditutup di hari keduanya dan sukses menjadi panggung bagi diversity di dunia musik. Bagi kami, gelaran tersebut juga menjadi jawaban bagi kemungkinan terciptanya harmoni meskipun kita mendudukkan berbagai perbedaan dalam satu arena. 

 

 

Leave a Reply