Review “Crawl” (2019) – Nostalgia Teror Binatang Buas

Kamu rindu dengan film-film horor binatang buas seperti Lake Placid, Deep Blue Sea, dan Anaconda: Hunt for the Blood Orchid? Tenang, di pertengahan Juli 2019 ini, sutradara Alexandre Aja (Piranha 3D, High Tension) dan produser Sam Raimi (Drag Me to Hell, Evil Dead) akan datang membawa kembali kengerian tersebut lewat “Crawl”.

Film ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Haley (dibintangi oleh Kaya Scodelario) yang harus kabur dari rubanah untuk menyelamatkan ayahnya (dibintangi oleh Barry Pepper) dari serangan buaya-buaya ganas saat badai hujan dan banjir bandang menyerang Florida. Mendengar premis ini, kita sudah bisa menanamkan ekspektasi yang apa adanya untuk film ini: ringan namun intens dan menakutkan.

Kenyataannya, memang Crawl memenuhi semua ekspektasi tersebut dengan sangat baik. Terkadang, kita tidak butuh plot twist atau beratnya bobot subteks yang menyentuh segala lapisan cerita di dalam film. Cukup ketegangan tanpa henti dan ketakutan akan kapan para buaya menyeramkan tersebut akan muncul. Tidak hanya memberikan monster-monster berdarah dingin, Crawl juga punya banyak skenario tak terduga yang akan sukses membuatmu terkejut. Belum lagi, efek badai yang sungguh realistis serta sound design yang ciamik akan membuatmu ikut sesak napas sepanjang film berlangsung.

Tidak ada yang orisinil dari “Crawl” baik dari segi konsep, cerita, maupun plot film. Namun dengan treatment familiar yang ditawarkan, sudah pasti film yang super menegangkan ini akan menjadi oase terhadap kurang menggairahkannya film-film Box Office Hollywood akhir-akhir ini.

Crawl bisa disaksikan di seluruh bioskop Indonesia mulai tanggal 14 Juli 2019.

Untrusted’s Rating: 4 out of 5

Leave a Reply